Sejarah Desa

SEJARAH LEGENDA BABAT TANAH PULAU PARANG

THE HISTORY OF PARANG ISLAND’S EXPEDITION

                 Parang adalah berasal dari kata bahasa arab Farogho yang memiliki arti selesai.Kata Farogho apabila dibaca wasol (terus) akan berbunyi sesuai aslinya farogho dan menjadi Farang apabila kalimat itu dibaca wakof (berhenti).Karena pada dasarnya kalimat Farogho itu terdiri dari huruf fa’ ro alif ain.Dan huruf terakhir ain ini bertitik tiga.Jadi dibaca ngo apabila wasol dan dibaca ng apabila wakof.

Parang, comes from the araboc word Farogho which means FINISH. If we pronounc this word continously will be spelled as its original spelling farogho dan it will become Farang if the sentences uses the full stop or known in arabic as wakof. Basically this words consist of the arabic alphabet fa’ro, alif, ain, the last alphabet, ain has three point then we spell it as ngo if it is wasol and spelled ng if it is wakof.

Jauh sebelum ada indonesia ini terbentuk sebenarnya Pulau Parang telah banyak didatangi dan dihuni para pendatang.Baik itu yang menetap maupun yang hanya sekedar singgah.Karena Pulau Parang terletak dilintas pelayaran internasional 1 mil sebelah utara pulau.

Long time ago, before the existence of Indonesia, there is a lot expediteur comes and stays in Parang’s island. some of them only for the transit and the other stays there because the location of parang Island is in the cross of the internatinal sail, 1 mil in the northern part of the island.

Sebagaimana yang telah disebutkan didalam buku Babat Tanah jawa bahwa pada zaman khilafah islamiyah terakhir yaitu Bani Usmaniyah yang berpusat di Turki yang telah berperan banyak terhadap penyebaran agama islam dijawa,maka pada tahun 1.404 M Sultan Muhammad 1 mengirimkan rombongan exspedisi babat tanah jawa yang ke 2 dengan 60  kapal layar yang diberangkatkan menuju pulau jawa.Selang beberapa bulan ditengah laut tinggallah 40 kapal layar yang masih bisa bertahan dan akhirnya singgah transit di Banjarmasin Kalimantan.Dari Banjarmasin kemudian rombongan dibagi menjadi dua.Rombongan 1 terdiri dari 20 perahu layar untuk melanjutkan perjalanan pelayaran ke arah timur dan sebelum mendarat ke pulau jawa (Gresik,Tuban dan sekitarnya) rombongan transit di pulau Bawean.Sedangkan yang rombongan ke 2 mendapat bagian untuk melanjutkan perjalanan pelayaran ke arah selatan dan sebelum mendarat ke pulau jawa (Jepara)rombongan transit dulu di pulau parang.

As mentionned in the first part of Tanah Jawa Babat, in the islamic era of khilafayah Bani usmaniyah which is centered in Turkey and plays the important role for the spread of islam’s religion in Java. In 1404 AD, king Muhamad 1 send the second part of the  expedition to java by 60 boats. After a month of the expedition, it left only 40 boats that can survive then they do the transit in Banjarmasin, Kalimantan. From Kalimantan they split the boat into 2 groups, the first group continue the route to the eastern part before finally arrive in Java ( gresik, Tuba and around), they do the transit in Bawean. The second group goes to the southern part  dan arrives in Java, Jepara, they do the transit in Parang.

Terkait dengan nama Parang,bahwa pada saat exspedisi kali kedua ini yang sebagaimana telah mengalami kegagalan dalam exspedisi yang pertama maka pada saat itu untuk menetralisir keangkeran pulau jawa para tokoh ulama yang dikirim dalam exspedisi ini telah menyiapkan sarana / media guna menetralisir keangkeran pulau jawa yang berupa 9 butir batu hitam yang telah diritual sebelumnya oleh para tokoh ulama tersebut yang dipimpin oleh Syeh Subakir.Sebelum kemudian mendarat dipulau Parang maka dari kejauhan ditengah laut salah satu inti media / sarana benda tersebut yang berbentuk Batu Hitam di lempar dan kemudian jatuh diujung utara pulau Parang yang hingga kini dinamakan Watu Gandul karena dahulu batu tersebut letaknya menggantung diatas permukaan tanah.Melihat batu tersebut jatuh disalah satu pulau maka rombongan memutuskan transit dipulau tersebut dan perahu berlabuh di lagun kunci, sedangkan rombongan mendarat pertama kali dibukit Mbatu Merah.Dinamakan demikian karena bukit ditepi laut ini memiliki bebatuan spesifik berwarna merah yang tidak terdapat ditempat lain.Konon para sesepuh menjelaskan bahwa warna merah tersebut disebabkan adanya batuan merah delima yang berada bersemayam di dalamnya.

In relation with the name of Parang, when this second expedition which has been failed in their first expedition, to neutraize the javanese’s mysthic, they prepare 9 black stones that has been treated by the ulama ( islamic’s expert) conducted by Syeh Subakir. Before landing in Parang’s island, in the distance of the sea they throw the black stones then it falls down in the northern part of the island which is well known as WATU GANDUL. Because the stones is hanging on the surface of the ground. Once they know the stones is falling down in one of the island they will decide to do a transit there. And the boat is docked at LAGUN KUNCI then the group arrive firstly at the hill of MBATU MERAH. They use this name because its location is in the seaside which has the red stones that can’t be found in other places. Their anchestor believes that there is a source of ruby.

Kemudian rombongan naik keatas kearah bendungan kecil.Disanalah kemudian  sebagian dari rombongan kecil yang dipimpin oleh Mbah Karomah Kunci tersebut menetap dan tidak melanjutkan perjalanan ke pulau jawa.Karena batu yang telah jatuh menggantung diujung utara pulau tersebut adalah inti dari media / sarana guna menetralisir keangkeran tanah jawa dan itu harus dijaga.Sedangkan rombongan yang selebihnya melanjutkan perjalanan ke pulau jawa untuk melanjutkan ritual guna menempatkan batu hitam yang lainnya ditempat-tempat yang telah ditentukan sebelumnya yang dipimpin langsung oleh Syeh Subakir.

Then the group goes up to the small dam. This small group was conducted by Mbah Karomah Kunci stays and doesnt continue their trip to Java’s island because the stones is hanging on the northern part of the island is the center of the media to neutralize the javanese’s mysthic and they have to keep the stone as it is. Then the other part of the group continue their trip to put the stones in the certain places conducted directly by Syeh subakir.

                 Mbah Karomah Kunci yang hingga kini tidak pernah jelas menyebutkan identitasnya bersama murid-muridnya menetap dan bermukim hingga wafatnya guna menjaga media / sarana inti tersebut.Dan hingga kini daerah yang beliau huni oleh orang secara turun temurun dinamakan pekuncen/kunci.Karena beliau berperan untuk menjaga dan mengawal keberadaan batu inti guna menetralisir keangkeran tanah jawa.Dengan demikian maka pulau ini menjadi pulau dimana kesempurnaan tanah jawa itu terwujud dan permasalahan selesai.Sehingga pulau jawa dapat dikembangkan dengan aman dan damai.Dan keberadaan Karimunjawa adalah pulau dimana dengan Karimunjawa inilah pulau jawa mulia.Namun kunci kemuliaan itu sendiri berada di Parang.Maka dinamakan Parang adalah pulau tempat penyempurnaan,karena ditempat inilah maka semua masalah yang terkait dengan babat tanah jawa guna menetralisir keangkerannya selesai.

Mbah Karomah Kunci which is the identity is not clearly known and his students lived there until the end of his life to keep the mediator. This place well knows as PEKUNCEN /KUNCI because he plays the important role to lead and keep this black stones to neutralize the javanese’s mysthic. Thus, this island becomes an island to complete the perfection of javanese’s island and the mission is done. Then we can develop the java island peacefully. And the existence of karimunjawa makes the java islands so precious. The centre of its preciousity located in parang. They call it parang because it is the place for the completion and in this place all the things related to the expedition of the javanese island to neutralize its mysthic part is done.        

 

(Sumber :Hamid Akasah Aby Azyzy Babat tanah jawa,Hamid Akasah Walisongo antara Mitos dan sejarah,Dr.Purwadi,M.Hum Babat tanah Jawa,Mbah Matroni (alm)Mbah Mudasih sesepuh Parang)